Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar

Ketrampilan berbahasa terdiri atas ketrampilan berbahasa lisan dan ketrampilan berbahasa tertulis. Dalam kehidupan sehari-hari, menyimak dan berbicara merupakan berbahasa lisan yang biasa kiat lakukan. Dimanapun kita berad, kedua jenis ketrampilan berbahasa ini selalu kita perlukan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Berbahasa lisan merupakan ketrampilan yang dapat dipelajari dan dilatihkan kepada para siswa di sekolah. Oleh sebab itu, dalam subunit ini akan dibahas topic strategi pembelajaran bahasa lisan yang mencakup: 1). Hubungan menyimak dengan berbicara. 2).strategi pembelajaran bahasa lisan dan penerapannya melalui kegiatan bercerita dan dramatisasi kreatif.

Hubungan Menyimak dan Berbicara  
Kegiatan menyimak oleh Tompkins dan Hoskisson ( dalam Aminuddin, 1997:72) disebut sebagai “most mysterious language process” dinyatakan demikian karena pelajar yang tampak dengan serius menyimak belum tentu memahami isi simakan. Sementara itu, pelajar yang menyimak sambil melakukan aktivitas lain, misalnya membaca, ternyata ketika diberi pertanyaan mampu menanggapi secara tepat. Sebab itulah bagi Tompkins dan Hoskisson, listening is more than just hearning. Dinyatakan demikian, karena hearning “mendengarkan” sebenarnya hanya merupakan bagian dari menyimak. Dalam percakapan sehari-hari , kita mendengar, mendengarkan, dan menyimak sering kita gunakan. Mendengarkan setingkat lebih tinggi tarafnya dari mendengar. Bila dalam peristiwa mendengar belum ada factor kesengajaan , maka dalam peristiwa mendengarkan factor kesengajaan sudah ada. Di antara ketiga kegiatan, mendengar, mendengarkan, dan menyimak, taraf tertinggi diduduki adalah kegiatan menyimak. Dalam peristiwa menyimak sudah ada factor kesengajaan. Factor pemahaman merupakan unsure utama dalam setiap peristiwa menyimak. Bahkan lebih dari itu, factor perhatian dan penilaian pun selalu terdapat dalam peristiwa menyimak. Menyimak, sebagai salah satu ketrampilan berbahasa, tidak kalah pentingnya dengan berbicara, membaca, dan menulis. Menyimak, berbicara, membaca, dan menulis harus disajikan secara terpadu dalam pembelajaran ketrampilan berbahasa di SD. Peristiwa menyimak diawali dengan mendengarkan bunyi bahasa secara langsung atau melalui rekaman radio, telepon atau televise. Bunyi bahasa yang ditangkap oleh telinga kita diidentifikasi menjadi suku kata, kata, frase, klausa, kalimat dan wacana. Secara sederhana dapat dikatakan, menyimak merupakan proses memahami pesan yang disampaikan melalui lisan. Sebalikna, berbicara adalah proses menyampaikan pesan delisan.ngan menggunakan bahasa Strategi Pembelajaran Berbahasa Lisan dan Penerapannya Melalui Kegiatan Bercerita dan Dramatisasi Kreatif Agar strategi yang dipilih dan diterapkan dapat mencapai sasarannya perlu diperhatikan beberapa prinsip yang melandasi pembelajaran berbahasa lisan sebagai berikut:

  1. Pengajaran ketrampilan berbahasa lisan harus mempunyai tujuan yang jelas yang diketahui oleh guru dan siswa. 
  2. Pengajaran ketrampilan berbahasa lisan disusundari yang sederhana ke yang lebih kompleks, sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa siswa.  
  3. Pengajaran ketrampilan berbahasa lisan harus mampu menumbuhkan partisipasi aktif terbuka pada diri siswa.  
  4. Pengajaran ketrampilan berbahasa lisan harus benar-benar mengajar bukab menguji.
Agar pembelajaran berbahas lisan memperoleh hasil yang baik, srtategi pembelajaran yang digunakan guru harus memenuhi kriteri :

  1. Relevan dengan tujuan pembelajaran 
  2. Menantang dan merangsang siswa untuk belajar   
  3. Mengembangkan kreativitas siswa secara individual ataupun kelompok
  4.  Memudahkan siswa memahami materi pelajaran  
  5. Mengarahkan aktivitas belajar siswa kepada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan   
  6. Mudah diterapkan dan tidak menuntut disediakannya peralatan yang rumit   
  7. Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan
Sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP) untuk SD, dapatlah dikemukakan beberapa strategi pembelajaran berbahasa lisan sebagai berikut:
  1. Menjawab pertanyaan Ada lima pertanyaan yang perlu disajikan guru, yaitu:
    • Siapa yang berbicara 
    • Apa yang dibicarakan  
    • Mengapa hal itu dibicarakan  
    • Di mana hal itu dibicarakan  
    • Bila hal itu dibicarakan   
    • Bermain Tebak-tebakan  
    • Bermain tebak-tebakan dapat kita laksanakan dengan berbagai cara. Cara yang sederhana, guru mendeskripsikan secara lisan suatu benda tanpa menyebutkan nama bendanya.
  1. Memberi Petunjuk
    Memberi petunjuk, seperti petunjuk mengerjakan sesuatu, petunjuk mengenai arah atau letak suatu tempat, memerlukan sejumlah persyaratan. Petunjuk harus jelas, singkat dan tepat.
     
  2. Identifikasi Kalimat Topik
    Guru membacakan sebuah paragraph siswa menuliskan kalimat topiknya.
     
  3. Main Peran
    Main peran adalah simulasi tingkah laku dari orang yangdiperankan. Tujuannya adalah :

    a. Melatih siswa untuk menghadapi situasi sebenarnya

    b. Melatih praktik berbahasa lisan secara intensif

    c. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuannya berkomunikasi.
     
  4. Bercerita
    Bercerita menuntut siswa menjadi pembicara yang baik dan kreatif. Dengan bercerita siswa dilatih untuk berbicara jelas dengan intonasi yang tepat, menguasai pendengar, dan untuk berperilaku menarik
     
  5. Dramatisasi
    Dramatisasi atau bermain drama adalah kegiatan mementaskan lakon atau cerita. Biasanya cerita yang dilakonkan sudah dalam bentuk drama. Guru dan siswa terlebih dahulu harus mempersiapkan naska atau scenario, perilaku, dan perlengkapan. Bermain drama lebih kompleks dari pada bermain peran. Melalui dramatisasi, siswa dilatih untuk mengekspresiakan perasaan dan pikirannya dalam bentuk bahasa lisan.
Strategi Pembelajaran Bahasa Tulis : Ketrrampilan berbahasa tulis terdiri atas ketrampilan membaca dan menulis. Membaca merupakan kegiatan memahami bahasa tulis, sedangkan menulis adalah kegiatan menggunakan bahasa tulis sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasan.

Hakikat Membaca
Pada hakikatnya, tindakan membaca terdiri dari dua bagian, yaitu membaca sebagai proses dan membaca sebagai produk (Bums dan Roe, 1996:13, Syafiie 1993;42). Membaca sebagai proses mengacu pada aktifitas, baik yang bersifat mental maupun fisik, sedang membaca sebagai produk mengacu pada konsekuensi dari aktifitas yang dilakukan pada saat membaca.

Menurut Bums (1996:7-17) dan Syaifii (1993:42-45) proses membaca terdiri atas delapan aspek yaitu:

1. Aspek sensori, yaitu kemampuan untuk memahami symbol-simbol tertulis

2. Aspek perseptual, yakni aspek kemampuan untuk menginterpretasi apa yang dilihatnya sebagai symbol atau kata

3. Aspek sekuensial, yakni kemampuan mengikuti pola-pola urutan, logika, dan gramatikal teks

4. Aspek asosiasi, yakni aspek kemampuan mengenal hubungan antara symbol dan bunyi dan antara kata-kata dan yang dipresentasikan

5. Aspek pengalaman, yakni aspek kemampuan menghubungkan kata-kata dengan pengalaman yang telah dimiliki untuk memberikan makna

6. Aspek berpikir, yakni kemampuan untuk membuat interferensi dan evaluasi dari materi yang dipelajari

7. Aspek belajar, yakni aspek kemampuan untuk mengingat apa yang telah dipelajari dan menghubungkannya dengan gagasan dan fakta yang baru dipelajari
 
8. Aspek afektif, yakni aspek yang berkenan dengan minat pembaca

Tujuan membaca
Pembelajaran bahasa Indonesia di SD bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Pengajaran bahasa Indonesia di SD yang bertumpuh pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan Pembelajaran membaca di SD menjadi bagian penting dari pembelajaran bahasa Indonesia. Syafiie ( 999:2) menyatakan bahwa melalui pembelajaran membaca siswa diharapkan antara lain:

1. Memperoleh informasi dan tanggapan yang tepat atas berbagai hal

2. Mencari sumber, menyimpulkan, menyaring,dan menyerap informasi dari bacaan

3. Mampu mendalami, menghayati, menikmati, dan menarik manfaat dari bacaan


Aspek-aspek ketrampilan untuk memahami isi bacaan itu ada bermacam-macam Bums dan Roe (1996:225), Rubin (19820; dan Syafiie (1993) menyebutkan empat tingkatan atau katagori pemahaman membaca, yaitu: literal, inferensial, kritis, dan kreatif.
Pemahaman literal adalah kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks. Pemahaman inferensial adalah kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara tidak langsung (tersirat) dalam teks. Memahami teks secara inferensial berarti memahami apa yang diimplikasikan oleh informasi-informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks. Pemahaman kritis merupakan kemampuan mengevaluasi materi teks. Pemahaman kritis pada dasarnya sama dengan pemahaman evaluative. Pemahaman kreatif merupakan kemampuan untuk mengungkapkan respon emosional dan estetis terhadap teks yang sesuai dengan standar pribadi dan standar professional. Penetapan tujuan membaca bagi siswa harus memenuhi dua syarat, yaitu:
1. Menggunakan pernyataan yang jelas dan tepat tentang apa yang harus diperhatikan atau dicari oleh siswa ketika membaca

2. Member gambaran yang mudah ditangkap oleh siswa tentang apa yang semestinya mampu mereka lakukan setelah selesai membaca

Pembelajaran Membaca Pemahaman (MP) dengan Strategi Aktivitas Membaca Berpikir Terbimbing (AMBT)


Upaya untuk mengoptimalkan pembelajaran MP sebagai salah satu bentuk pembelajaran membaca dan ketrampilan berbahasa di SD adalah menggunakan strategi AMBT. Menurut Staufer dan Manso (dalam Eanes, 1997:127) strategi AMBT merupakan strategi yang berguna untuk membimbing siswa berinteraksi dengan teks yang berlandaskan pada pendekatan proses membaca. proses membaca tersebut dimulai dengan tahap prabaca, saat baca, pascabaca. Sementara itu, menurut Stauffer (dalam Bums, 1996:331) stategi AMBT dapat mendorong siswa mengembangkan kemampuan berpikir melalui ketrampilan membaca.

Kegiatan Pembelajaran Prabaca
Aktivitas pada tahap prabaca member kesempatan kepada siswa untuk berlatih dan mencoba kebiasaan untuk memecahkan suatu masalah dan langsung termotivasi untuk menguji kebenarannya dari bacaan. Aktivitas yang dapat dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1. Guru mengelompokan siswa menjadi empat kelompok yang terdiri atas lima siswa
2. Guru memperkenalkan topic bacaan
3. Guru memberikan penjelasan tentang tujuan membaca yang akan dilaksanakn
4. Guru menjelaskan langkah-langkah belajar yang akan dilaksanakan
5. Guru mencatat di papan tulis semua prediksi yang dikemukakan siswa.

Kegiatan Pembelajaran Saat baca
Periode membaca dalam hati merupakan waktu yang ditetapkan guru yang harus dilaksanakan. Pelaksanaannya dapat perorangan, berpasangan, maupun kelompok.
Membaca dalam hati biasanya untuk penikmatan atau kesenangan. Oleh karena itu, membaca dalam hati sering juga disebut membaca rekrasional, yang memerlukan ketenangan dan terbebas dari rasa tertekan. Guru harus turut membaca karena ia sebagai model membaca bagi siswa.

Kegiatan Pembelajaran Pascabaca
Aktivitas pascabaca adalah aktivitas pengajaran setelah siswa melakukan kegiatan membaca. pengajaran pada tahap pascabaca dilakukan dengan cara membaca ulang prediksi awal yang dikemukakan pada tahap prabaca, bertanya-tanya untuk merevisi/menguji prediksi awal, melakukan sharing hasil dalam diskusi kelas, serta menjawab pertanyaan tingkat literal, inferensial, kritis, dan kreatif secara individu.


Menulis
Pembelajaran menulis merupakan suatu kegiatan yang dilakukan melalui proses atau tahapan-tahapan. Proses yang dilakukan dalam pembelajaran menulis di SD disesuaikan dengan tingkat kelas dan tingkat kesulitan, serta jenis atau bentuk tulisan yang dibinakan
Dalam KTSP menyatakan bahwa siswa hendaknya mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, dan pengetahuan secara tertulis, dan memiliki kegemaran menulis. Jenis pembelajaran menulis di kelas 6 SD berdasarkan KTSP antara lain adalah menulis/menyusun naska pidato.

Strategi Menulis Naska Pidato
Naska pidato seperti juga naska dialog, ditulis untuk ditampilkan. Perbedaannya, naska dialog ditampilkan oleh beberapa orang, sedangkan pidato ditampilkan oleh seorang saja, selain itu, komunikasi dalam dialog dilakukan diantara pemeran, sedangkan didalam pidato, komunikasi terjadi antara yang berpidato dengan pendengar


Jenis-jenis Pidato
Berdasarkan tujuannya, pidato dapat digolongkab menjadi beberapa jenis yaitu: 1). Pidato informasi. 2). Pidato persuasi. 3). Pidato aksi
 
  1. Pidato informasi adalah pidato yang dilakukan dengan tujuan menginformasikan, memberitahukan, atau menjelaskan sesuatu. 
  2. Pidato persuasi adalah pidato yang bertujuan meyakinkan pendengar tentang sesuatu.  
  3. Pidato aksi adalah pidato yang bertujuan untuk menggerakkan.
Pidato aksi memiliki persamaan dengan pidato persuasi. Perbedaannya pada pidato persuasi hasil yang diharapkan ditujukan pada kepentingan pribadi atau lembaga, sedangkan pidato aksi bertujuan untuk mencapai tujuan bersama.

Persiapan Pidato
Untuk mempersiapkan sebuah pidato yang baik, perlu diperhatikan langkah berikut:

1. Merumuskan tujuan pidato
2. Menganalisis pendengar dan situasi
3. Memilih dan menyampaikan topic
4. Mengumpulkan bahan
5. Membuat kerangka
6. Menguraikan isi pidato secara terperinci
7. Berlatih dengan suara nyaring

Ketujuh langkah persiapan pidato tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga kegiatan, yaitu:
1. Menelitih masalah, yang terdiri atas langkah-langkah (1), (2), dan (3).
2. Menyusun atau menulis naska pidato, yang terdiri atas langkah-langkah (4), (5) dan (6).
3. Latihan oral, yaitu langkah (7)

Menulis Naska Pidato
Untuk dapat menulis naska pidato secara efektif, harus memiliki pengetahuan tentang teknik menyusun atau menulis naska pidato;


1. Teknik menulis naska pidato
Menulis atau menyusun naska pidatoharus melalui tiga kegiatan yaitu:

a. Mengumpulkan bahan
:
Setelah meneliti persoalan dan merumuskan tujuan pidato serta menganalisis pendengar, selanjutnya siap untuk menggarap naska pidato. Menulis naska pidato dapat menggunakan hal apa saja yang diketahui namun jika dianggap kurang, maka dapat mencari bahan-bahan tambahan yang berupa fakta, ilustrasi, cerita atau pokok-pokok yang konkrit untuk mengembangkan pidato.

b. Membuat kerangkah pidato

Kerangkah dasar dapat dibuat sebelum mencari bahan-bahan, yaitu dengan menentukan pokok-pokok yang akan dibicarakan, sedangkan kerangkah yang terperinci baru dapat dibuat setelah bahan-bahan selesai dikumpulkan.

c. Menguraikan isi pidato

Dengan menggunakan kerangkah yang telah dibuat, ada dua hal yang dilakukan:


  • Mempergunakan kerangkah tersebut untuk berpidato, yaitu berpidato dengan menggunakan metode ekstemporan
  • Menulis atau menyusun naska pidato secara lengkap yang dibacakan atau dihafalkan.
d. Struktur isi pidato
Struktur isi pidato adalah rangkaian isi pidato dari awal hingga akhir.
Ada beberapa cara merangkai isi pidato, antara lain:
1. Alur dasar pidato, yaitu rangkaian isi pidato yang mengikuti alur dasar pidato yang bergerak melalui tiga tahap yaitu; a. Tahap perhatian, b. tahap kebutuhan, c. tahap penyajian.

2. Pola organisasi pidato, pola organisasi pidato dapat digolongkan ke dalam tiga tipe besar, yaitu:


  • Pola uraian, ada dua macam urutan ynag digunakan untuk menyusun/menulis isi pidato, yaitu, urutan kronologis dan urutan ruang. Urutan kronologis , adalah susunan isi yang dimulai dari periode atau data tertentu, bergerak maju atau mundur secara sistematis. Sementara itu, urutan ruang adalah susunan isi yang berurutan berdasarkan kedekatan fisik satu dengan lainnya.  
  • Pola sebab; sebagaimana terlihat dari namanya, organisasi yang menggunakan pola sebab yang bergerak dari satu analisis sebab disaat ini bergerak ke arah analisis akibat dimasa yang akan datang.  
  • Pola topic; pola organisasi pidato yang menggunakan pola topic dilakukan apabila materi yang dibicarakan lebih dari satu periode atau kelompok
Tahap-tahap Menyusun/Menulis Naska Pidato
Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam menulis naskah pidato. Memilih subjek dan membatasi tujuan umum pidato.

a. Membatasi subjek untuk mencocokkan waktu yang tersedia, menjaga kesatuan dan kepaduan pidato

b. Menyusun ide pokok menurut tahap-tahap urutan alur dasar pidato
c. Memasukkan dan menyusun submateri yang berhubungan di setiap pokok
d. Mengisi materi pendukung yang memperkuat atau membuktikan ide
e. Memeriksa draft kasar, untuk meyakinkan bahwa subjek telah cukup terekam dan mencerminkan tujuan khusus pidato
pengunjung yang budiman bantu blog ini bagikan postingan artikel dengan cara klik logo share di bawah ini :

0 komentar:

Post a Comment

Admin tidak selalu online jika ada pertanyaan tinggalkan komentar, bagi sobat yang ingin berkomentar gunakan kata-kata yang sopan terimakasih.

[ Form Komentar Klasik ]