pengertian dan manfaat Bahan Tambahan Pangan

pengertian dan manfaat Bahan Tambahan Pangan
  • A.    DEFINISI
Bahan Tambahan Pangan (BTP) dalam pengertian luas adalah bahan yang ditambahkan ke dalam produk pangan selain bahan baku utama. Secara khusus BTP adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau karakteristik pangan, baik yang mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi. BTP dapat ditambahkan pada proses produksi, pengemasan, transportasi atau penyimpanan.
Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 Tentang Pangan, Yang dimaksud "bahan tambahan pangan" adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan, antara lain, bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat dan pengental.
  • B.     Manfaat BTP
o   Mempertahankan konsistensi produk makanan Misalnya : Emulsifier menjadikan produk makanan mempunyai tekstur yang konsisten; contoh, susu yang diawetkan tidak terpisah.
o   Memperbaiki atau memelihara nilai gizi. Contohnya adalah:
Vitamin dan mineral yang umumnya ditambahkan ke dalam makanan seperti susu, tepung, dan lain-lain dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi orang yang kekurangan gizi, atau untuk mempertahankan bahkan meningkatkan atau memperbaiki kandungan gizi bahan makanan tsb yang kemungkinan hilang akibat pemrosesan.
o   Menjaga cita rasa dan sifat produk makanan secara keseluruhan. Contoh : Bahan pengawet mempertahankan mutu produk makanan dari mikrobia yang dapat menyebabkan kerusakan produk, misal berjamur atau busuk.
o   Menjaga tingkat keasaman atau kebasaan makanan yang diinginkan. Contoh : Bahan pengembang menghasilkan gas karbon dioksida sehingga tekstur biskuit, cake dan produk sejenis lainnya mengembang.
o   Memperkuat rasa atau memberikan warna tertentu yang dikehendaki. Beberapa bumbu dan penyedap rasa baik buatan maupun alami memperkuat rasa makanan. Warna kuning dari pewarna kuning buatan (BTP) tartrazine atau kurkumin dari kunyit memberi warna khas pada produk.

  • C.     BTP antioksidan
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan, Antioksidan Adalah Bahan tambahan makanan yang dapat mencegah atau menghambat oksidasi.
Antioksidan adalah bahan tambahan yang  digunakan untuk melindungi komponen-komponen makanan yang bersifat tidak jenuh (mempunyai ikatan rangkap), terutama lemak dan minyak.  Meskipun demikian antioksidan dapat pula digunakan untuk melindungi komponen lain seperti vitamin dan pigmen, yang juga banyak mengandung ikatan rangkap di dalam strukturnya.
Adanya ion logam, terutama besi dan tembaga, dapat mendorong terjadinya oksidasi lemak.  Ion-ion logam ini seringkali diinaktivasi dengan penambahan senyawa pengkelat, dan dapat juga disebut bersifat sinergistik dengan antioksidan karena menaikkan efektivitas antioksidan utamanya.
Untuk dapat digunakan sebagai antioksidan, suatu senyawa harus mempunyai sifat-sifat : tidak toksik, efektif pada konsentrasi rendah (0,01-0,02%), dapat terkonsentrasi pada permukaan/lapisan lemak (bersifat lipofilik) dan harus dapat tahap pada kondisi pengolahan pangan umumnya. 
Berdasarkan sumbernya antioksidan dapat digolongkan ke dalam dua jenis. Pertama, antioksidan yang  bersifat alami, seperti komponen fenolik/flavonoid, vitamin E, vitamin C dan beta-karoten. Kedua,  antioksidan sintetis seperti BHA (Butylated Hydroxyanisole), BHT (Butylated Hydroxytoluene), PG (Propil Galat),  dan TBHQ (di-t-Butyl Hydroquinone).  Tabel 1 menunjukkan komponen-komponen flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan beserta sumbernya
BHA (Butylated Hydroanisole).  BHA merupakan campuran dua isomer, yaitu 2- dan 3-tertbutilhidroksianisol.  Di antara kedua isomer tersebut, isomer 3-tert memiliki aktivitas antioksidan yang lebih efektif dibandingkan isomer 2-tert.  Bentuk fisik  BHA adalah padatan putih menyerupai lilin, bersifat larut dalam lemak dan tidak larut dalam air.
BHT (Butylated Hydroxytoluene). Sifat-sifat BHT sangat mirip dengan BHA dan bersinergis dengan BHA.
Propil Galat.  Propil galat merupakan ester propanol dari asam trihidroksi benzoat.  Bentuk fisik propil galat adalah kristal putih.  Propil galat memiliki sifat-sifat : (1) dapat bersinergis dengan BHA dan BHT, (2) sensitif terhadap panas, (3) membentuk kompleks berwarna dengan ion logam, oleh karenanya jika dipakai dalam makanan kaleng dapat mempengaruhi penampakan produk.
TBHQ (Tertiary Butylhydroquinone).  TBHQ merupakan antioksidan yang paling efektif dalam minyak makan dibandingkan BHA, BHT, PG dan tokoferol.  TBHQ memiliki sifat-sifat: (1) bersinergis dengan BHA (2) cukup larut dalam lemak (3) tidak membentuk komplek dengan ion logam tetapi dapat berubah menjadi merah muda, jika bereaksi dengan basa
Dosis pengunaan tiap-tiap antioksidan sintetik ini tidak sama untuk masing-masing negara.  Tabel 2 menunjukkan dosis pemakaian antioksidan BHA, BHT, Galat dan TBHQ di beberapa Negara


  • Jenis-jenis Antioksidan
  • Jenis antioksidan yang diizinkan digunakan dalam pangan terdiri dari:
  • a.       Ascorbic Acid (Asam askorbat dan garamnya (natrium askorbat,  kalsium askorbat, dan kalium askorbat))
  • b.      Ascorbil palmitate (Askorbil palmiat)
  • c.       Ascorbil stearate  (Askorbil stearat)
  • d.      Erythrobic Acid ((Asam eritrobat dan garamnya (natrium eritrobat))
  • e.       Tertiary butyl hydroquinone (TBHQ) (Butil Hidrokinon Tersier)
  • f.       Butylated hydroxyanisole (BHA) (Butil Hidroksianisol)
  • g.      Butylated hydroxy Toluene (BHT) (Butil Hidroksitoluen)
  • h.      Propyl gallate (Propil galat)
  • i.        Tocopherol (tokoferolcampuran pekat, alfa tokoferol dan gama tokoferol), yang telah diyakini keamanannya.
  • j.        Dilauryl Thiodipropionate (Dilauril Tiodipropionat)
  • k.      Stannous Chloride (Timah II Klorida)

Tabel 1.  Beberapa contoh komponen flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan

Komponen
Sumber
Vitamin
        Vitamin C
        Vitamin E

Buah-buahan & sayuran
Padi-padian, kacang-kacangan dan minyak
Anthosianidin
        Oenin
        Cyanidin
        Delphinidin

Anggur (wine)
Buah anggur, raspberri, strawberri
Kulit buah aubergine
Flavo-3-ols
        Quercertin
        Kaempferol

Bawang, kulit buah apel, buah berri, buah anggur, tea dan brokoli
Leek, brokoli, buah anggur dan teh
Flavonone
        Rutin
        Luteolin
        Chrysin
        Apigenin

Bawang, kulit buah apel, buah berri, buah anggur, tea dan brokoli
Lemon, olive, cabe merah
Kulit buah
Celery dan parsley
Flavan-3-ols
        (Epi)catecin
      Epigallocatecin
        pigallocatecin gallate
        Epicatecin gallate

Red/black grape wine
Tea
Tea
Tea
Flavonone
        Taxifolin
         Narirutin
         Naringenin
         Hesperidin
         Hesperetin

Buah jeruk citrus
Buah jeruk citrus
Buah jeruk citrus
Jus Orange
Jus Orange
Theaflavin
         Theaflavin
         Theaflavin-3-gallate
         Theaflavin-3’-gallate
         Theaflavin digallate

Black tea
Black tea
Black tea
Black tea
Hydroxycinnamat
         Caffeic acid
         Chlorogenic acid
         Ferulic acid
         p-Coumaric acid
Buah anggur putih, olive, asparagus
Buah apel, pir, cherry, tomat dan peach
Padi-padian, tomat, asparagus
Buah anggur putih, tomat, asparagus
  • D.    Bahan pangan yang mengandung BTP Antioksidan
Antioksidan adalah BTP yang digunakan untuk mencegah terjadinya ketengikan pada makanan akibat proses oksidasi lemak atau minyak yang terdapat di dalam makanan. Bahan-bahan yang sering ditambahkan antioksidan adalah lemak dan minyak, mentega, margarin, daging olahan atau awetan, ikan beku, ikan asin, dan lain-lain. Bahan antioksidan yang diizinkan digunakan dalam makanan diantaranya :


Table bahan pangan yang mengandung antioksidan:
no
BTP Antioksidan
Bahan pangan
1
Askorbat
(dalam bentuk asam sorbat, atau garam kalium, natrium atau kalsium), yaitu antioksidan untuk kaldu (l g/kg), daging olahan/awetan, jem, jeli dan marmalad, serta makanan bayi (500 mg/kg).
2
Butil Hidroksianisol (BHA)
lemak dan minyak makan serta mentega (200 mg/kg), dan margarin (100 mg/kg).
3
Butil Hidroksitoluen (BHT)
untuk ikan beku (1 g/kg).
4
Propil galat
lemak dan minyak makan, dan (100 mg/kg).
5
Tokoferol
untuk makanan bayi (300 mg/kg), , serta lemak dan minyak makan (secukupnya).
6
Propil galat
Mentega (100 mg/kg).
7
Tokoferol
kaldu (50 mg/kg)
8
Askorbat
potongan kentang goreng beku (100 mg/kg).
9
Askorbat
dalam bentuk asam sorbat, atau garam kalium, natrium atau kalsium, ikan beku (400 mg/kg)
10
Propil galat
Margarine (100 mg/kg).
11
Butil Hidroksitoluen (BHT)
minyak, lemak, margarin, mentega dan ikan asin (200 mg/kg).


  • E.     BTP yang di perbolehkan dan BTP yang di larang
Tujuan penggunaan bahan tambahan pangan adalah dapat meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi dan kualitas daya simpan, membuat bahan pangan lebih mudah dihidangkan, serta mempermudah preparasi bahan pangan. Pada umumnya bahan tambahan pangan dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu sebagai berikut:
1.      Bahan tambahan pangan yang ditambahkan dengan sengaja kedalam makanan, dengan mengetahui komposisi bahan tersebut dan maksud penambahan itu dapat mempertahankan kesegaran, cita rasa dan membantu pengolahan, sebagai contoh pengawet, pewarna dan pengeras.
2.      Bahan tambahan pangan yang tidak sengaja ditambahkan, yaitu bahan yang tidak mempunyai fungsi dalam makanan tersebut, terdapat secara tidak sengaja, baik dalam jumlah sedikit atau cukup banyak akibat perlakuan selama proses produksi, pengolahan, dan pengemasan. Bahan ini dapat pula merupakan residu atau kontaminan dari bahan yang sengaja ditambahkan untuk tujuan produksi bahan mentah atau penanganannya yang masih terus terbawa kedalam makanan yang akan dikonsumsi. Contoh bahan tambahan pangan dalam golongan ini  adalah residu pestisida (termasuk insektisida, herbisida, fungisida, dan rodentisida), antibiotik, dan hidrokarbon aromatic polisiklis.
Bahan tambahan pangan yang digunakan hanya dapat dibenarkan apabila:
1.      Dimaksudkan untuk mencapai masing-masing tujuan penggunaan dalam pengolahan.
2.      Tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang salah atau yang tidak memenuhi persyaratan.
3.      Tidak digunakan untuk menyembunyikan cara kerja yang bertentangan dengan cara produksi yang baik untuk pangan;
4.       Tidak digunakan untuk menyembunyikan kerusakan bahan pangan.
Penggunaan bahan tambahan pangan sebaiknya dengan dosis dibawah ambang batas yang telah ditentukan. Jenis BTP ada 2 yaitu GRAS (Generally Recognized as Safe), zat ini aman dan tidak berefek toksik misalnya gula (glukosa). Sedangkan jenis lainnya yaitu ADI (Acceptable Daily Intake), jenis ini selalu ditetapkan batas penggunaan hariannya (daily intake) demi menjaga/ melindungi kesehatan konsumen. Di Indonesia telah disusun peraturan tentang Bahan Tambahan Pangan yang diizinkan ditambahkan dan yang dilarang (disebut Bahan Tambahan Kimia) oleh Depertemen Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1168/MenKes/Per/X/1999.
Ø  BTP yang di perbolehkan
Beberapa Bahan Tambahan yang diizinkan digunakan dalam makanan menurut Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 diantaranya sebagai berikut:
1.      Antioksidan (Antioxidant)
2.       Antikempal (Anticaking Agent)
3.       Pengatur Keasaman (Acidity Regulator)
4.      Pemanis Buatan (Artificial Sweeterner)
5.       Pemutih dan Pematang Telur (Flour Treatment Agent)
6.      Pengemulsi, Pemantap, dan Pengental (Emulsifier, Stabilizer, Thickener)
7.       Pengawet (Preservative)
8.      Pengeras (Firming Agent)
9.       Pewarna (Colour)
10.  Penyedap Rasa dan Aroma, Penguat Rasa (Flavour, Flavour Enhancer)
11.   Sekuestran (Sequestrant)
Ø  Beberapa bahan Tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan, menurut Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 diantaranya sebagai berikut:
1.      Natrium Tetraborat (Boraks)
2.       Formalin (Formaldehyd)
3.      Minyak nabati yang dibrominasi (Brominated Vegetable Oils)
4.      Kloramfenikol (Chlorampenicol)
5.      Kalium Klorat (Pottasium Chlorate)
6.       Dietilpirokarbonat (Diethylpyrocarbonate)
7.      Nitrofuranzon (Nitrofuranzone)
8.       P-Phenetilkarbamida (p-Phenethycarbamide, Dulcin, 4-ethoxyphenyl urea)
9.      Asam Salisilat dan garamnya (Salilicylic Acid and its salt)

Ø  Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988, selain bahan tambahan diatas masih ada bahan tambahan kimia yang dilarang seperti rhodamin B (pewarna merah), methanyl yellow (pewarna kuning), dulsin (pemanis sintesis), dan kalsium bromat (pengeras).
  • F.      Efek terhadap kesehatan
1.      Penyakit pengobatan
Otak secara unik rentan terhadap cedera oksidatif, karena tingkat metabolisme yang tinggi dan peningkatan kadar lipid polyunsaturated, target peroksidasi lipid. Akibatnya, antioksidan biasanya digunakan sebagai obat untuk mengobati berbagai bentuk cedera otak. Di sini, mimetics superoksida dismutase, natrium thiopental dan propofol digunakan untuk mengobati cedera reperfusi dan cedera otak traumatis, sedangkan obat percobaan NXY-059 dan ebselen sedang diterapkan dalam pengobatan stroke. Senyawa ini muncul untuk mencegah stres oksidatif dalam neuron dan mencegah apoptosis dan kerusakan saraf. Antioksidan juga sedang diteliti sebagai pengobatan untuk penyakit neurodegenerative seperti penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, dan sclerosis lateral sclerosis, dan sebagai cara untuk mencegah noise-induced gangguan pendengaran.

2.      Pencegahan penyakit
Antioksidan dapat membatalkan efek yang merusak sel dari radikal bebas. dan ada bukti bahwa beberapa jenis sayuran, dan buah-buahan pada umumnya, melindungi terhadap sejumlah kanker. Observasi ini menyarankan gagasan bahwa antioksidan dapat membantu mencegah kondisi ini. Namun, hipotesis ini kini telah diuji dalam uji klinis banyak dan sepertinya tidak benar, karena suplemen antioksidan tidak memiliki pengaruh yang jelas terhadap risiko penyakit kronis seperti kanker dan penyakit jantung. Diperkirakan bahwa oksidasi low density lipoprotein dalam darah memberikan kontribusi pada penyakit jantung, dan studi observasi awal menemukan bahwa orang yang memakai suplemen vitamin E memiliki risiko lebih rendah menderita penyakit jantung. Akibatnya, setidaknya tujuh percobaan klinis besar dilakukan untuk menguji efek dari suplemen antioksidan dengan Vitamin E, dalam dosis mulai dari 50 sampai per hari. Namun, tidak ada uji coba ini menemukan pengaruh signifikan secara statistik Vitamin E pada jumlah keseluruhan kematian atau kematian akibat penyakit jantung. Penelitian lebih lanjut juga telah negatif. Hal ini tidak jelas apakah dosis yang digunakan dalam percobaan atau dalam suplemen diet yang paling mampu menghasilkan apapun penurunan yang signifikan dalam stres oksidatif. Secara keseluruhan, meskipun peran yang jelas dari stres oksidatif pada penyakit kardiovaskuler, studi dikendalikan dengan menggunakan vitamin antioksidan telah mengamati tidak ada pengurangan baik dalam risiko penyakit jantung, atau laju perkembangan penyakit yang ada.
Sementara beberapa percobaan telah menyelidiki suplemen dengan dosis tinggi antioksidan, yang Suplementasi et en Vitamines Mineraux Antioxydants''" (SU.VI.MAX) penelitian menguji pengaruh suplementasi dengan dosis yang sebanding dengan mereka yang diet sehat. Lebih dari 12.500 pria dan wanita Perancis mengambil baik antioksidan dosis rendah (asam askorbat, vitamin E, beta karoten, 100 \ Mu g selenium, dan seng) atau pil plasebo selama rata-rata 7,5 tahun. Para peneliti menemukan tidak ada pengaruh signifikan secara statistik dari antioksidan pada kelangsungan hidup secara keseluruhan, kanker, atau penyakit jantung. Namun, dalam analisis post-hoc mereka menemukan penurunan 31% pada risiko kanker pada laki-laki, tapi tidak perempuan.
Banyak perusahaan makanan nutraceutical dan kesehatan menjual formulasi antioksidan sebagai suplemen diet dan ini banyak digunakan di negara-negara industri. Suplemen ini mungkin termasuk bahan kimia antioksidan tertentu, seperti resveratrol (dari biji anggur atau akar knotweed), kombinasi dari antioksidan, seperti ACES "produk" yang mengandung beta karoten (provitamin A), vitamin C, vitamin E dan S elenium, atau tumbuhan yang mengandung antioksidan - seperti teh hijau dan jiaogulan. Meskipun beberapa tingkat vitamin antioksidan dan mineral dalam diet diperlukan untuk kesehatan yang baik, ada keraguan yang cukup besar untuk apakah suplemen antioksidan bermanfaat atau berbahaya, dan jika mereka benar-benar bermanfaat, yang antioksidan (s) yang diperlukan dan berapa jumlah . Memang, beberapa penulis berpendapat bahwa hipotesis bahwa antioksidan dapat mencegah penyakit kronis kini telah disproven dan bahwa gagasan itu sesat dari awal.
Untuk harapan hidup secara keseluruhan, bahkan sudah menyarankan bahwa tingkat moderat stres oksidatif dapat meningkatkan umur dalam cacing''elegans Caenorhabditis'', dengan menginduksi respon protektif terhadap peningkatan tingkat spesies oksigen reaktif. Namun, saran yang meningkatkan harapan hidup berasal dari peningkatan konflik stres oksidatif dengan hasil yang terlihat dalam ragi,Saccharomyces cerevisiae, dan situasi di mamalia bahkan kurang jelas.

3.      Olahraga
Selama latihan, konsumsi oksigen dapat meningkat dengan faktor lebih dari 10. Hal ini menyebabkan peningkatan besar dalam produksi oksidan dan hasil kerusakan yang memberikan kontribusi untuk kelelahan otot selama dan setelah latihan.
Respon inflamasi yang terjadi setelah latihan berat juga berhubungan dengan stres oksidatif, terutama dalam 24 jam setelah sesi latihan. Respon sistem kekebalan terhadap kerusakan yang dilakukan oleh puncak latihan 2 sampai 7 hari setelah latihan, yang merupakan periode di mana sebagian besar adaptasi yang mengarah ke kebugaran yang lebih besar terjadi. Selama proses ini, radikal bebas yang diproduksi oleh neutrofil untuk menghilangkan jaringan yang rusak. Akibatnya, tingkat antioksidan yang berlebihan dapat menghambat mekanisme pemulihan dan adaptasi. suplemen Antioksidan juga dapat mencegah salah satu keuntungan kesehatan yang biasanya datang dari latihan, seperti sensitivitas insulin meningkat.
Bukti manfaat dari suplemen antioksidan dalam olahraga berat dicampur. Ada bukti kuat bahwa salah satu adaptasi yang dihasilkan dari latihan adalah memperkuat pertahanan antioksidan tubuh, khususnya sistem glutathione, untuk mengatur stres oksidatif meningkat. Efek ini mungkin akan sampai batas tertentu perlindungan terhadap penyakit yang berhubungan dengan stres oksidatif, yang akan memberikan penjelasan parsial untuk lebih rendah insiden penyakit utama dan kesehatan yang lebih baik dari mereka yang melakukan olahraga secara teratur.
Namun, tidak ada manfaat untuk kinerja fisik untuk atlet dilihat dengan suplemen vitamin E. Memang, meskipun peranan penting dalam mencegah peroksidasi lipid membran, 6 minggu suplemen vitamin E tidak berpengaruh terhadap kerusakan otot di pelari maraton.
Walaupun tampaknya ada ada persyaratan ditingkatkan untuk vitamin C dalam atlet, ada beberapa bukti bahwa suplemen vitamin C meningkatkan jumlah dari latihan yang dapat dilakukan dan vitamin C suplemen sebelum latihan berat dapat mengurangi jumlah kerusakan otot. Namun, penelitian lain tidak menemukan efek seperti itu, dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa suplementasi dengan jumlah setinggi menghambat pemulihan.

4.      Efek samping
mengurangi asam cukup kuat dapat memiliki efek antinutrient dengan cara mengikat mineral diet seperti besi dan seng dalam saluran pencernaan dan mencegah mereka dari diserap. Contoh penting adalah asam oksalat, tanin dan asam fitat, yang tinggi dalam diet nabati. Kalsium dan defisiensi besi yang tidak biasa dalam makanan di negara-negara berkembang di mana sedikit daging dimakan dan ada konsumsi yang tinggi asam fitat dari kacang dan roti gandum utuh tidak beragi.
antioksidan nonpolar seperti eugenol komponen-sebuah utama minyak cengkeh-memiliki batas toksisitas yang dapat melampaui dengan penyalahgunaan minyak esensial murni. Toksisitas terkait dengan dosis tinggi antioksidan yang larut dalam air seperti asam askorbat kurang perhatian, karena senyawa ini dapat dikeluarkan dengan cepat dalam urin. Lebih serius, dosis yang sangat tinggi dari beberapa antioksidan dapat memiliki efek jangka panjang berbahaya.
Beta-carotene dan Retinol Efficacy Trial (caret) penelitian terhadap pasien kanker paru-paru menemukan bahwa perokok diberikan suplemen yang mengandung beta-karoten dan vitamin A mengalami peningkatan tingkat kanker paru-paru. studi selanjutnya dikonfirmasi akibat yang merugikan.
 Secara keseluruhan, jumlah besar percobaan klinis dilakukan pada suplemen antioksidan menunjukkan bahwa baik produk-produk ini tidak berpengaruh pada kesehatan, atau bahwa mereka menyebabkan peningkatan kecil kematian pada populasi lanjut usia atau rentan. Hal ini diduga terjadi karena lingkungan sel kanker penyebab tingginya tingkat stres oksidatif, membuat sel-sel ini lebih rentan terhadap stres oksidatif lebih lanjut disebabkan oleh perlakuan. Akibatnya, dengan mengurangi stres redoks di sel-sel kanker, suplemen antioksidan dapat menurunkan efektivitas radioterapi dan kemoterapi. Di sisi lain, review lainnya telah menunjukkan bahwa antioksidan dapat mengurangi efek samping atau meningkatkan kelangsungan hidup kali.


DAFTAR PUSTAKA

http://www.news-medical.net/health/Antioxidant-Health-Effects-%28Indonesian%29.aspx
http://halalhealth.multiply.com/journal/item/29/Bahan_Tambahan_Pangan
http://www.smallcrab.com/makanan-dan-gizi/850-bahan-tambahan-pangan
pengunjung yang budiman bantu blog ini bagikan postingan artikel dengan cara klik logo share di bawah ini :

0 komentar:

Post a Comment

Admin tidak selalu online jika ada pertanyaan tinggalkan komentar, bagi sobat yang ingin berkomentar gunakan kata-kata yang sopan terimakasih.

[ Form Komentar Klasik ]